Komisi D DPRD Kota Semarang Apresiasi Sekolah Rakyat Rowosari

Dimas Yuli
Kunjungan Komisi D DPRD Kota Semarang di sekolah rakyat rowosari. (Foto: Dimas Yuli/ iNews).

SEMARANG, iNewsPantura.id – Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Mualim, mengapresiasi kehadiran Sekolah Rakyat (SR) di Rowosari, Kota Semarang. Menurutnya, program yang digagas pemerintah pusat tersebut membuka akses pendidikan bagi masyarakat miskin secara gratis sekaligus memberikan harapan baru bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Apresiasi tersebut disampaikan Mualim saat memimpin kunjungan Komisi D DPRD Kota Semarang ke Sekolah Rakyat Rowosari, Kamis. Dalam kunjungan itu, rombongan meninjau pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) serta fasilitas bangunan baru yang digunakan para siswa.

Di lokasi, para anggota dewan melihat langsung ruang kelas, asrama, ruang makan, hingga berbagai fasilitas penunjang pendidikan. Mualim mengaku terkesan dengan konsep pendidikan berasrama yang diterapkan di Sekolah Rakyat.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto yang telah menghadirkan Sekolah Rakyat di Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang. Ini menjadi kesempatan bagi masyarakat yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan untuk bisa bersekolah secara gratis," ujar Mualim.

Menurutnya, seluruh kebutuhan siswa ditanggung negara, mulai dari biaya pendidikan, tempat tinggal di asrama, konsumsi, hingga pendampingan agar memiliki peluang kerja setelah lulus.

"Ini program yang luar biasa. Anak-anak mendapatkan pendidikan, makan, tempat tinggal, bahkan nantinya juga dipersiapkan untuk mendapatkan pekerjaan," katanya.

Mualim juga mengapresiasi suasana kebersamaan yang dibangun di lingkungan sekolah. Menurutnya, kegiatan belajar, makan, hingga tinggal bersama di asrama dapat membangun rasa percaya diri sekaligus memperkuat karakter para siswa.

Meski demikian, Komisi D mencatat sejumlah hal yang perlu segera mendapat perhatian pemerintah. Salah satunya adalah pemenuhan sarana pembelajaran, seperti perangkat teknologi pendukung di ruang kelas.

"Meja dan kursi sudah bagus. Harapannya nanti setiap kelas juga dilengkapi fasilitas pembelajaran seperti infokus. Tinggal bagaimana regulasinya, apakah dibantu pemerintah pusat atau Pemerintah Kota Semarang," ujarnya.

Selain itu, Mualim menyoroti kebutuhan sumber daya manusia (SDM), terutama tenaga pendidik dan pembina asrama. Menurutnya, jumlah guru dan pengasuh perlu disesuaikan dengan kapasitas siswa yang terus bertambah.

"Kami mendorong kepala sekolah segera berkoordinasi dengan Kementerian Sosial maupun pemerintah daerah agar kebutuhan guru dan pembina asrama segera dipenuhi," katanya.

Ia juga menilai pendampingan psikologis bagi siswa menjadi hal penting. Sebab, sebagian besar peserta didik berasal dari keluarga kurang mampu, bahkan ada yang berstatus yatim maupun yatim piatu.

"Tadi kami melihat ada anak yang menangis saat makan. Bukan karena makanannya, tetapi kemungkinan teringat keluarga di rumah. Kondisi psikologis seperti ini perlu mendapat perhatian, sehingga keberadaan psikolog juga penting untuk mendampingi mereka," jelasnya.

Mualim berharap seluruh anak yang mendaftar di Sekolah Rakyat ke depan dapat tertampung seiring dengan bertambahnya kapasitas sekolah.

Harapan kami, jangan sampai ada anak yang ingin sekolah tetapi tidak tertampung. Pemerintah daerah bersama Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, dan Wali Kota perlu terus berkoordinasi agar sarana prasarana bisa segera dilengkapi," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Rowosari, Ridho Irwanto, mengatakan pada tahun ajaran 2026/2027 sekolah tersebut menerima 270 siswa, masing-masing 90 siswa jenjang SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA.

"Ke depan jumlahnya akan bertambah seiring naiknya angkatan. Kami juga sudah memiliki kuota untuk kakak kelas, masing-masing 50 siswa SD dan 50 siswa SMA," kata Ridho.

Ia mengakui, pada pekan pertama masuk sekolah masih ada sejumlah siswa yang mengalami homesick. Namun kondisi tersebut dinilai sebagai proses adaptasi yang wajar.

"Ini memang minggu-minggu kritis. Anak-anak masih beradaptasi dengan lingkungan baru sehingga rasa rindu rumah pasti muncul. Kami berharap dukungan dari orang tua juga terus diberikan agar proses adaptasi berjalan baik," ujarnya.

Terkait kebutuhan tenaga pendidik, Ridho menyebut secara umum jumlah guru masih dapat mengakomodasi kegiatan belajar mengajar, meski beberapa mata pelajaran masih membutuhkan tambahan tenaga.

"Kalau dibilang kekurangan guru tidak terlalu signifikan. Guru SMA dan SMP masih bisa saling membantu. Namun memang ada beberapa mata pelajaran yang membutuhkan tambahan, seperti guru agama. Untuk SD juga kami masih membutuhkan tambahan sekitar tiga guru," katanya.

Sementara untuk pembangunan fisik, Ridho menjelaskan tidak ada penambahan bangunan baru. Saat ini pengerjaan hanya tinggal tahap penyelesaian (finishing) pada beberapa bagian sehingga belum seluruh fasilitas dapat digunakan.

"Kalau pembangunan sudah selesai, sekarang tinggal tahap finishing di beberapa titik. Setelah itu seluruh fasilitas bisa dimanfaatkan secara maksimal," pungkasnya.

Editor : Eddie Prayitno

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network