YOGYAKARTA,iNewsPantura.id – Indonesia sebagai negara yang berada di kawasan cincin api Pasifik dan jalur sabuk Alpide menghadapi risiko tinggi terhadap berbagai bencana alam, mulai dari gempa bumi, erupsi gunung api, banjir, tanah longsor hingga kekeringan akibat perubahan iklim.
Kondisi tersebut menuntut adanya sistem kesehatan yang tangguh dan mampu memberikan pelayanan secara berkelanjutan saat terjadi situasi darurat.
Sebagai upaya memperkuat kapasitas sumber daya manusia dalam menghadapi ancaman bencana, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan Summer Course 2026 on Interprofessional Healthcare dengan tema Health and Disaster Management: Before, During, and After Emergencies.
Program yang berlangsung selama dua minggu ini diikuti sekitar 81 mahasiswa dari jenjang sarjana, profesi, hingga pascasarjana.
Peserta berasal dari UGM, berbagai perguruan tinggi di Indonesia, serta universitas mitra internasional dengan latar belakang keilmuan yang beragam, mulai dari kesehatan, teknik, ilmu biologi hingga filsafat.
Ketua Panitia Summer Course 2026, Melyza Perdana, S.Kep., Ns., MS., Ph.D., mengatakan keberagaman disiplin ilmu tersebut sengaja dihadirkan untuk menanamkan pemahaman bahwa penanganan bencana tidak dapat dilakukan oleh satu profesi saja.
“Bencana itu penanganannya tidak bisa hanya ditanggung oleh satu profesional saja. Harapannya dengan pendekatan global dan multidisiplin sejak di bangku kuliah, mahasiswa sudah memiliki kesadaran bahwa penanggulangan bencana adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya kepada wartawan di Ruang Eksekutif Graha Wiyata FK-KMK UGM.
Menurut Melyza, peserta akan mendapatkan berbagai materi yang menggabungkan pembelajaran sinkron dan asinkron. Kegiatan meliputi kuliah pakar, diskusi panel, simulasi kebencanaan, role play, praktikum, latihan tanggap darurat, kunjungan lapangan hingga presentasi kelompok.
Materi yang diberikan mencakup penguatan sistem kesehatan yang tangguh, kesiapsiagaan bencana, layanan kesehatan darurat, manajemen pengungsian, dukungan kesehatan jiwa, hingga proses pemulihan pascabencana.
“Targetnya mahasiswa menjadi lebih aware terhadap berbagai risiko bencana di sekitar mereka sehingga mengetahui peran yang bisa diambil ketika bencana terjadi,” jelasnya.
Perspektif internasional juga menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Salah satu akademisi dari Taipei Medical University, Taiwan, Assoc. Prof. Fu-Chih Lai, RN., Ph.D., membagikan pengalaman negaranya dalam membangun sistem mitigasi dan respons bencana.
Ia menjelaskan Taiwan menerapkan sistem peringatan dini atau early notification yang dapat menjangkau seluruh masyarakat, termasuk pendatang, ketika terdapat ancaman bencana seperti gempa bumi maupun erupsi gunung api.
“Di Taiwan, meskipun Anda adalah pendatang, Anda akan mendapatkan notifikasi awal atas ancaman bencana seperti gunung meletus,” katanya.
Selain sistem peringatan dini, Taiwan juga memiliki pusat manajemen bencana yang berfungsi mengatur distribusi korban ke rumah sakit terdekat serta memastikan jalur komunikasi antara rumah sakit, badan penanggulangan bencana dan berbagai pihak terkait tetap aktif setiap hari.
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D., menegaskan bahwa kesiapan masyarakat, pemerintah dan tenaga kesehatan menjadi faktor penting dalam meminimalkan dampak bencana.
Menurutnya, lemahnya koordinasi antarlembaga sering menjadi tantangan saat menghadapi kondisi darurat.
“Karena kalau ada bencana kita seperti orang yang bingung, kaget, dan selalu kurang koordinasi di antara berbagai pihak, dan itu menjadi concern juga,” ujarnya.
Hamim berharap kegiatan summer course ini tidak hanya memperkuat jejaring akademik internasional, tetapi juga melahirkan tenaga kesehatan dan profesional lintas disiplin yang memiliki kemampuan kolaboratif dalam menghadapi berbagai situasi krisis.
Melalui program tersebut, UGM berupaya memberikan kontribusi nyata dalam mendukung pembangunan sistem kesehatan yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana yang semakin kompleks di tingkat nasional maupun global
Editor : Eddie Prayitno
Artikel Terkait
