PURWOKERTO, iNewsPantura.id – Upaya melindungi keanekaragaman hayati laut Indonesia terus diperkuat. Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melalui Pusat Biodiversitas dan Maritim Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), berkolaborasi dengan WWF Indonesia menggelar Workshop dan Pelatihan Identifikasi Endangered Species bertema "Mengenal dan Melindungi Keanekaragaman Hayati Laut melalui Identifikasi Spesies Kunci".
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat LPPM Unsoed ini diikuti mahasiswa dan dosen dari Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Indonesia, serta Universitas Diponegoro. Workshop dirancang untuk memperkuat kemampuan peserta dalam mengenali spesies laut yang terancam punah melalui pendekatan ilmiah berbasis teknologi.
Narasumber utama, Ratih R. Ayustina, Marine ETP Specialist for Sea Turtle WWF Indonesia, menjelaskan berbagai tantangan dalam konservasi Marine Endangered, Threatened, and Protected (ETP) Species, seperti hiu paus, pari, penyu, mamalia laut, hingga ikan karang yang memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.
Kepala Pusat Biodiversitas dan Maritim LPPM Unsoed, Dr. rer. nat. Riyanti, S.T., M.Biotech., mengatakan pelatihan ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan literasi sekaligus keterampilan teknis peserta dalam mendukung konservasi laut berbasis data.
"Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami karakteristik spesies kunci, tetapi juga mampu mengolah dan menginterpretasikan data visual untuk mendukung kegiatan pemantauan keanekaragaman hayati laut," ujarnya.
Workshop berfokus pada pengenalan dua metode pemantauan modern, yakni Photo Identification (Photo ID) dan Baited Remote Underwater Video (BRUV). Kedua teknik tersebut dinilai efektif karena mampu memantau satwa laut secara non-destruktif tanpa mengganggu habitat alaminya, sekaligus menghasilkan data yang akurat untuk pemantauan jangka panjang.
Dalam pemaparannya, Ratih mengungkapkan bahwa spesies laut kategori Marine ETP saat ini menghadapi berbagai ancaman serius, mulai dari bycatch, perdagangan ilegal, eksploitasi berlebihan, degradasi habitat, pencemaran laut, aktivitas wisata yang tidak bertanggung jawab, hingga dampak perubahan iklim.
"Berbagai ancaman tersebut menunjukkan pentingnya penguatan kapasitas identifikasi dan monitoring sebagai dasar pengambilan keputusan konservasi yang berbasis data," jelasnya.
Selain sesi materi dan diskusi, peserta juga mengikuti praktik langsung identifikasi spesies menggunakan Photo ID serta pengenalan metode BRUV untuk pemantauan bawah laut. Pelatihan ini diharapkan mampu mencetak sumber daya manusia yang siap terlibat dalam kegiatan riset, monitoring, dan perlindungan spesies laut terancam.
Melalui kolaborasi ini, LPPM Unsoed dan WWF Indonesia berkomitmen memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, lembaga konservasi, peneliti, mahasiswa, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut Indonesia.
Workshop ini sekaligus menegaskan komitmen Unsoed dalam mencetak generasi konservasionis yang memiliki kompetensi ilmiah dan kepedulian tinggi terhadap kelestarian biodiversitas laut, sehingga mampu berkontribusi nyata bagi perlindungan spesies kunci dan masa depan ekosistem laut Indonesia.
Editor : Suryo Sukarno
Artikel Terkait
