SEMARANG,iNewsPantura.id – Peluang ekspor kopi dan rempah Indonesia ke pasar Asia Tengah dan Eurasia semakin terbuka. PUI PT Pascapanen Kopi dan Rempah (Co-Spice) Universitas Negeri Semarang (UNNES) bersama Nestra Kottama Indonesia mengantongi dua Letter of Intent (LoI) kerja sama ekspor dalam Astana Coffee Expo 2026 di Kazakhstan, 3-5 September.
Dua calon mitra ekspor tersebut yakni Jibek Joly Co LPP dan Navien-Turkestan. Kesepakatan awal itu menjadi pintu masuk bagi produk kopi dan rempah Indonesia untuk menembus pasar Kazakhstan sekaligus dikembangkan ke kawasan Eurasia.
Keikutsertaan delegasi Indonesia dalam pameran yang mempertemukan importir, roaster, pelaku industri kopi, sektor hotel, restoran dan kafe (HoReCa) serta calon mitra bisnis tersebut difasilitasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Astana.
Ketua PUI PT Pascapanen Kopi dan Rempah Co-Spice UNNES Dr Eka Yuli Astuti mengatakan, peluang ekspor tersebut menjadi langkah penting untuk membawa produk hasil riset perguruan tinggi menuju pasar internasional.
“Kami ingin membangun ekosistem dari research to product, dari product to market, dan dari market menuju global commercialization,” ujarnya, Selasa 15 September 2026..
Dalam pameran tersebut, Co-Spice memperkenalkan produk kopi, rempah dan inovasi minuman kesehatan. Produk juga diuji melalui respons konsumen Kazakhstan, mulai dari rasa, aroma, warna, tingkat kepahitan, kemanisan hingga tingkat penerimaan.
Hasil pengujian tersebut akan menjadi dasar penyempurnaan formula, kemasan, posisi produk dan strategi pemasaran sebelum produk dikembangkan untuk pasar ekspor yang lebih luas.
Selain produk fisik, delegasi Indonesia memperkenalkan Virtual Rempah Indonesia yang menampilkan sekitar 100 jenis rempah Nusantara. Rempah diposisikan tidak sekadar sebagai komoditas ekspor, tetapi juga memiliki nilai tambah melalui aspek biodiversitas, budaya, gastronomi dan inovasi bahan alam.
Duta Besar RI untuk Kazakhstan dan Tajikistan Dr M Fadjroel Rachman mengatakan, kolaborasi akademisi, dunia usaha, masyarakat dan pemerintah menjadi kekuatan penting dalam membuka akses pasar internasional.
Sinergitas ABCG menjadi kunci untuk mewujudkan from academic research to global market,” katanya.
Kazakhstan memiliki posisi strategis sebagai salah satu anggota Eurasian Economic Union (EAEU) bersama Rusia, Belarus, Armenia dan Kyrgyzstan. Posisi tersebut memberikan peluang bagi produk Indonesia untuk memperluas pasar setelah masuk ke Kazakhstan.
Dua LoI yang telah diperoleh selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan pembahasan spesifikasi produk, standar mutu, volume, harga, kemasan dan sertifikasi. Tahapan tersebut diperlukan sebelum kerja sama berkembang menjadi kontrak ekspor.
Eka menegaskan, peluang pasar tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong kopi dan rempah Indonesia tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi memiliki nilai tambah dan daya saing di pasar global.
“Kopi dan rempah Indonesia bukan hanya komoditas, tetapi juga membawa pengetahuan, budaya, inovasi dan nilai kesehatan yang dapat menjadi bagian dari diplomasi ekonomi Indonesia,” tandasnya.
Editor : Eddie Prayitno
Artikel Terkait
