Krisis Lingkungan Kian Mengkhawatirkan, Menteri LH Gaungkan Tobat Ekologis
TEGAL - iNewsPantura, Indonesia menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan yang kian masif.
Menyikapi kondisi tersebut, Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, menyerukan gerakan pertobatan ekologis sebagai upaya mengubah cara manusia memperlakukan alam.
Seruan tersebut disampaikan Jumhur saat memberikan kuliah umum di Kampus Harkat Negeri Tegal, Sabtu (4/7/2026).
Menurutnya, Indonesia saat ini menghadapi krisis ekosistem yang saling berkaitan, mulai dari perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati (biodiversitas), hingga pencemaran lingkungan yang terus meningkat.
Kondisi tersebut tidak hanya mengancam kelestarian alam, tetapi juga berdampak pada stabilitas ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat.
"Krisis ekosistem yang tengah berlangsung saat ini merupakan momen penting bagi kita untuk introspeksi, melakukan perenungan, dan pertobatan ekologis," tegas Jumhur.
Ia menjelaskan, pertobatan ekologis bukan sekadar ajakan moral, melainkan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap lingkungan.
Menurutnya, setiap aktivitas manusia memiliki konsekuensi terhadap keberlangsungan ekosistem sehingga kepedulian terhadap lingkungan harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
"Menjaga lingkungan bukan lagi pilihan, tetapi kewajiban moral dan sosial yang harus dipikul bersama oleh seluruh elemen masyarakat," ujarnya.
Jumhur juga mengungkapkan pemerintah tengah menyiapkan pelaksanaan Gerakan Tobat Ekologis yang direncanakan diluncurkan pada Agustus mendatang sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Sementara itu, Rektor Universitas Harkat Negeri, , menegaskan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjawab berbagai persoalan bangsa, termasuk krisis lingkungan.
Menurutnya, kampus harus menjadi ruang dialog yang melahirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan sekaligus membangun karakter generasi muda yang peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.
Untuk itu, Universitas Harkat Negeri mendorong mahasiswa menjadi motor perubahan melalui berbagai inisiatif, di antaranya pembentukan Pusat Studi Keberlanjutan dan Pusat Kajian Perkotaan Pesisir.
"Kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada penguasaan ilmu pengetahuan yang diimbangi moral dan karakter yang kuat," ucapnya.
Editor : Yunibar SP