Ternyata Ada Loh Sahabat Nabi yang Gemar Halalbihalal

Mulanya, Buya Hamka mengajukan nama acara itu dengan istilah Silaturahmi atau Syukuran. Tetapi, Bung Karno kurang puas dengan istilah itu. Yang ia inginkan, agar istilah yang dipakai benar-benar khusus, hanya untuk Idulfitri. Sementara, kedua istilah yang diusulkan Buya Hamka menurutnya masih terlalu umum.
Lantas, Buya Hamka memberi pertimbangan lagi. Kepada Bung Karno, ia katakan, “Idulfitri itu hari yang apa-apa diharamkan di bulan Ramadan kembali menjadi halal.”
Dari pernyataan Buya Hamka itulah kemudian terbesit di benak Bung Karno, Lebaran menjadi waktu yang mempertemukan antara yang halal dengan yang halal. Lalu, ia pun kembali bertanya, “Bagaimana kalau acara kumpul-kumpul itu dinamakan halalbihalal?”
Pertanyaan itu ditanggapi positif oleh Buya Hamka. Ia tidak memasalahkan istilah usulan Bung Karno tadi.
Editor : Ribut Achwandi