KUDUS , iNewsPantura.id -- Dari kolong imajinasi anak-anak desa sebuah panggung lahir. Aula Balai Desa Megawon tak sekadar menjadi ruang pertemuan warga. Ia berubah menjadi panggung kecil tempat mimpi-mimpi anak muda dipertaruhkan.
Tak banyak yang membayangkan, dari desa di Kecamatan Jati, Kudus, akan lahir sebuah komunitas teater. Namanya sederhana: Teater 9,9 — dibaca Songo koma Songo. Ia tumbuh dari inisiatif Karang Taruna, dirawat pelan-pelan selama lima tahun, hingga akhirnya berani bertemu publik lewat pementasan perdana.
Dan ini yang membuat dada berdecak deg-degan sebelum nonton pementasanya, lakon yang dipilih bukan naskah ringan. Mereka mengangkat RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang —sastrawan yang dalam sejarah teater modern Indonesia kerap disejajarkan dengan semangat absurdisme ala Samuel Beckett.
Sebagaimana Beckett dalam Waiting for Godot, Iwan menghadirkan tokoh-tokoh yang seolah terjebak dalam ruang tanpa kepastian. Dialognya panjang, kadang berputar, terasa seperti percakapan sehari-hari, namun sesungguhnya menyimpan kegelisahan tentang makna hidup, identitas, dan keberadaan manusia. Realitas dihadirkan secara ganjil, nyaris surealis, tetapi justru karena itu terasa dekat melekat.
RT Nol RW Nol berkisah tentang sekelompok gelandangan yang tinggal di kolong jembatan. Mereka membentuk struktur pemerintahan sendiri—lengkap dengan Ketua, Sekretaris, dan Bendahara—meski secara administratif mereka tak pernah diakui. RT 0 RW 0. Nol. Kosong. Tak tercatat. Namun justru di situlah mereka berusaha menemukan harga diri.
Bagi kelompok yang baru naik panggung pertama kali, pilihan naskah ini terasa berani kalau tidak disebut nekat!
Prosesnya pun tak singkat. Enam bulan mereka habiskan untuk membaca, membedah, berlatih, dan berdebat. Dialog-dialog filosofis yang sarat metafora itu harus dihidupkan, bukan sekadar dihafal.
Di atas panggung malam itu, Lis Sofiana Putri menjelma Ani. Firda Nadila menjadi Ina. Cindy Artha Marcela memainkan Ati. Muhammad Daffa Yudistira sebagai Bopeng. Roy Indriansyah Putra sebagai Kakek. Dan Muhammad Ryan Adi Saputro memerankan Pincang.
Sebagian dari mereka adalah pekerja (dalam arti sesungguhnya). Siang mencari nafkah, malam berjibaku dengan kalimat-kalimat yang tak selalu mudah dipahami, bahkan oleh orang dewasa sekalipun.
Kelahiran Teater 9,9 terasa seperti oase kecil di tengah situasi kesenian panggung yang tak selalu ramah. Di Kudus, kelompok teater tak sebanyak dulu. Beberapa masih bertahan, sebagian hidup segan mati tak mau. Regenerasi serasa berjalan pelan.
Di Jawa Tengah, geliat teater relatif lebih terasa di kota-kota seperti Semarang dan Surakarta, terutama lewat komunitas kampus. Namun di banyak daerah, teater berjuang mencari ruang tampil dan dukungan. Di era gawai dan media sosial, panggung sering kalah cepat dari layar.
Tapi jujur, Kudus masih beruntung ada Festival Teater Pelajar (FTP) Teater Djarum, yang terus berikhtiar menjadi udara bagi nafas kesenian teater di Kudus. Salut dan angkat jempol.
Karena itu, lahirnya teater kampung seperti 9,9 patut dirayakan. Dukungan pemerintah desa menjadi bagian penting cerita ini. Kepala Desa, Nurasag, memberi ruang bagi anak-anak muda ini untuk berproses. Barangkali dia tak memahami teori absurdisme, tetapi keberaniannya memberi tempat bagi kesenian adalah keputusan yang tak sederhana.
Usai pentas, penonton, sutradara, dan crew duduk lesehan melingkar. Sarasehan digelar. Zaki Zamani dari Keluarga Segitiga Teater berbicara dengan nada pelan namun tegas.
“Melahirkan komunitas teater di kampung itu bukan pekerjaan mudah. Ini bukan sekadar kumpul lalu latihan. Ini soal komitmen jangka panjang. Apalagi teman-teman ini sebagian pekerja. Mereka menyisihkan tenaga dan waktu setelah lelah bekerja. Itu tidak semua orang sanggup,” ujarnya.
Tantangan terbesar, tambah Zaki, bukan pada pementasan pertama. “Yang lebih berat justru setelah ini. Menjaga semangat agar tidak padam. Banyak komunitas lahir dengan gegap gempita, tapi redup karena tidak dirawat. Teater 9,9 harus membangun jejaring, belajar ke kelompok lain, dan membuka diri. Kalau itu dilakukan, saya yakin Megawon bisa menjadi kantung kesenian baru di Kudus.”
Aktris senior Pipiek Isfianti yang telah lebih dari 30 tahun berkecimpung di panggung juga berbagi pengalaman. Ia berbicara tentang proses yang tak selalu manis.
“Dalam berteater pasti ada konflik. Ada perdebatan soal tafsir naskah, soal blocking, soal siapa yang merasa paling benar. Itu wajar. Jangan takut pada konflik, karena di situlah kita belajar dewasa,” katanya.
Ia lalu mengingatkan bahwa teater bukan sekadar tampil di panggung.
“Teater itu latihan memahami kehidupan. Kita belajar mendengar, belajar sabar, belajar melihat dari sudut pandang orang lain. Tapi ingat, sehebat apa pun kalian nanti di panggung, keluarga tetap nomor satu. Jangan sampai kesenian membuat kita lupa akar.”
Anak-anak muda Megawon mungkin belum lama mengenal panggung. Namun malam itu mereka telah membuka sebuah jendela kehidupan. Jendela bernama teater.
Dan dari desa kecil itu, sebuah pesan sederhana mengalir: kesenian tidak harus lahir di kota besar. Ia bisa tumbuh di kampung, di aula balai desa, di antara tikar milik balai desa dan lampu-lampu panggung sederhana—asal ada keberanian untuk memulai.
Teater 9,9 telah memulai langkahnya. Kini, yang tersisa adalah menjaga agar langkah itu tidak berhenti di angka nol.
Editor : Suryo Sukarno
Artikel Terkait
