Daun Sirsak Berpotensi Jadi Kandidat Antikanker, tetapi Bukti Klinis Masih Terbatas

Tim iNewsPantura.id
dr Muhammad Yamsun, Sp.B (K) onk. Foto : dok

PURWOKERTO, iNewsPantura.id – Tanaman sirsak (Annona muricata) selama ini dikenal luas sebagai tanaman buah yang mudah tumbuh di wilayah tropis. Namun, di balik buahnya yang memiliki cita rasa asam manis, daun sirsak juga menjadi perhatian dalam berbagai penelitian karena mengandung sejumlah senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan sebagai kandidat bahan antikanker.

Sirsak dikenal dengan berbagai nama, antara lain graviola, guanabana, paw-paw, hingga durian belanda. Tanaman dari famili Annonaceae ini dapat tumbuh di daerah tropis maupun subtropis dan banyak ditemukan di berbagai kawasan, termasuk Indonesia.

Secara umum, pohon sirsak dapat tumbuh hingga sekitar 5–10 meter. Daunnya berbentuk lonjong, berwarna hijau tua, tebal dan mengkilap. Sementara buahnya berbentuk hati hingga oval dengan kulit hijau berduri lunak serta daging berwarna putih, berair dan memiliki rasa asam manis.

Selain buah, berbagai bagian tanaman sirsak seperti daun, akar, kulit dan biji secara tradisional telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Daunnya bahkan menjadi salah satu bagian tanaman yang paling banyak diteliti terkait potensi aktivitas biologisnya, termasuk sebagai kandidat antikanker.

Mengandung Senyawa Bioaktif
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa daun Annona muricata mengandung berbagai senyawa bioaktif, antara lain acetogenin, flavonoid, senyawa fenolik dan alkaloid.

Di antara senyawa tersebut, acetogenin menjadi salah satu komponen yang paling banyak mendapat perhatian. Senyawa ini diketahui dapat memengaruhi fungsi mitokondria, yaitu bagian sel yang berperan penting dalam menghasilkan energi.
Secara sederhana, penelitian laboratorium menunjukkan acetogenin dapat menghambat kompleks I pada mitokondria sehingga produksi energi dalam sel menurun. Kondisi tersebut dapat memicu gangguan fungsi mitokondria dan mengaktifkan rangkaian proses yang berujung pada apoptosis atau kematian sel terprogram.

Mekanisme tersebut antara lain berkaitan dengan perubahan protein yang mengatur kehidupan dan kematian sel, seperti Bax, Bcl-2 dan Bcl-xL, kemudian diikuti aktivasi caspase yang berperan dalam proses apoptosis.

Selain acetogenin, flavonoid dan senyawa fenolik juga memiliki aktivitas biologis yang menarik. Kedua kelompok senyawa tersebut dapat memengaruhi stres oksidatif, proliferasi sel dan sejumlah jalur molekuler yang berkaitan dengan perkembangan sel kanker.

Sementara itu, kelompok alkaloid juga dilaporkan dapat memengaruhi proses pembelahan sel serta jalur yang mengatur kelangsungan hidup sel.

Diteliti pada Berbagai Jenis Kanker
Sejumlah penelitian praklinis memberikan hasil yang cukup menjanjikan. Penelitian Perinbarajan dan kolega pada 2024, misalnya, mengkaji aktivitas senyawa acetogenin pada target molekuler yang berkaitan dengan kanker payudara, termasuk reseptor estrogen dan HER2.

Penelitian lain oleh Silihe dan kolega pada 2023 melaporkan bahwa ekstrak Annona muricata dalam model penelitian dapat menurunkan ukuran dan berat tumor serta memengaruhi sejumlah penanda yang berkaitan dengan perkembangan kanker.
Penelitian tersebut juga menunjukkan perubahan pada sistem antioksidan, antara lain peningkatan glutathione (GSH), aktivitas enzim superoksida dismutase (SOD) dan katalase, serta penurunan malondialdehyde (MDA), yang merupakan salah satu indikator stres oksidatif.

Efek terhadap proses apoptosis juga menjadi perhatian. Sejumlah penelitian yang dilakukan Mahmood dan kolega, Mary dan kolega, serta Pathirana dan kolega menunjukkan adanya aktivitas sitotoksik ekstrak daun sirsak pada model sel kanker yang diteliti.

Pada penelitian tertentu, ekstrak daun sirsak dilaporkan dapat meningkatkan ekspresi protein atau gen yang berkaitan dengan apoptosis, seperti p21, Bax dan caspase, serta menurunkan ekspresi protein anti-apoptosis seperti Bcl-2. 

Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa daun sirsak memiliki potensi untuk memengaruhi sel kanker melalui lebih dari satu mekanisme, mulai dari menghambat pertumbuhan dan pembelahan sel, memengaruhi metabolisme energi, mengatur stres oksidatif hingga mendorong apoptosis.

Murah dan Mudah Ditemukan

Salah satu keunggulan tanaman sirsak adalah ketersediaannya. Tanaman ini relatif mudah dibudidayakan di wilayah tropis seperti Indonesia sehingga bahan bakunya berpotensi diperoleh dengan biaya yang relatif rendah.

Dari sisi penelitian, aktivitas antikanker daun sirsak juga menarik karena tidak hanya bekerja melalui satu jalur biologis. Kandungan berbagai senyawa bioaktif memungkinkan ekstraknya memengaruhi sejumlah mekanisme yang berkaitan dengan perkembangan sel kanker.

Pengembangan teknologi juga membuka peluang baru. Salah satunya melalui penggunaan nanopartikel berbasis bahan tanaman yang ditujukan untuk meningkatkan efektivitas dan karakteristik senyawa aktif.
Namun, potensi tersebut masih harus ditempatkan secara proporsional. Daun sirsak belum dapat dianggap sebagai pengganti terapi kanker yang telah terbukti secara klinis.

Bukti pada Manusia Masih Terbatas
Meskipun hasil penelitian laboratorium dan hewan menunjukkan potensi yang menjanjikan, sebagian besar penelitian mengenai aktivitas antikanker Annona muricata masih berada pada tahap praklinis, seperti penelitian in vitro, in vivo dan in silico.

Artinya, hasil positif pada sel atau hewan percobaan belum otomatis menunjukkan bahwa konsumsi daun sirsak akan memberikan efek yang sama pada manusia.
Masih diperlukan penelitian klinis yang terukur untuk mengetahui efektivitas, dosis yang aman, efek samping, interaksi dengan obat kanker, serta keamanan penggunaan dalam jangka panjang.

Karena itu, daun sirsak lebih tepat dipandang sebagai kandidat bahan alam yang memiliki potensi untuk dikembangkan dalam penelitian antikanker, bukan sebagai obat kanker yang sudah terbukti.

Potensi tersebut tetap penting untuk dikaji lebih lanjut, terutama bagi Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati sangat besar. Penelitian berkelanjutan terhadap tanaman lokal seperti sirsak dapat membuka peluang pengembangan bahan obat berbasis sumber daya alam sekaligus memperkuat kemandirian riset dan farmasi nasional.

Pada akhirnya, kekayaan tanaman tropis tidak hanya menyimpan potensi ekonomi, tetapi juga peluang ilmiah. Sirsak menjadi salah satu contoh bagaimana tanaman yang tumbuh di sekitar masyarakat masih menyimpan banyak kemungkinan yang perlu dibuktikan melalui penelitian ilmiah yang ketat.

Penulis : dr Muhammad Yamsun, Sp.B (K) onk, Dosen ilmu bedah Fakultas Kedokteran UNSOED Purwokerto &
Dokter bedah konsultan bedah onkologi di RSUD Prof dr Margono Soekarjo Purwokerto 

Editor : Suryo Sukarno

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network