Menjaga Napas Rock Temanggung dari Anak Sekolah hingga Musisi Senior

Didik Dono Hartono
Salah satu penampilan di gelarann Rock Ngisor Ringin Session 3.dokumenn

TEMANGGUNG,iNewsPantura.id – Musik rock di Temanggung belum kehilangan panggung. Di tengah perubahan selera musik, komunitas lokal justru berupaya memastikan genre musik tersebut tetap memiliki generasi penerus.

Upaya itu terlihat dalam Rock Ngisor Ringin Session 3 yang digelar Temanggung Rock Community (TRC) di Tribun Barat Alun-alun Temanggung. Bukan hanya musisi senior, sejumlah pelajar turut diberi kesempatan tampil.

Sebanyak 15 grup dari berbagai generasi ambil bagian dalam pertunjukan tersebut. Mereka di antaranya Aziora, Super Kids, Consept, The Progressivo, Why Not, Humanizer, Basic, Emergency, The Lalah, Don't Speak, Exel, Singosari, Trooper, Robot, dan Buas.

Ketua TRC Witarso Saptono Putro mengatakan, regenerasi menjadi alasan utama komunitas terus membuat panggung musik rock. Menurutnya, banyak anak muda Temanggung yang memiliki kemampuan bermusik, tetapi belum memperoleh ruang untuk menunjukkan kemampuannya.

“Untuk Rock Ngisor Ringin Session 3 yang sekarang tampil ini sebelumnya banyak sekali yang belum pernah manggung. Ada grup dari usia SD, SMP. Kita memberi ruang kepada mereka, ternyata kemampuannya luar biasa sekali,” ujar pria yang akrab disapa Pak Ook tersebut.

Menurut Ook, geliat musik rock di Temanggung memiliki sejarah panjang. Musisi lokal telah bermunculan sejak era 1970-an, kemudian berkembang pada 1980-an dan 1990-an.

Karena itu, ia tidak ingin keberadaan talenta baru berhenti karena minimnya panggung. Regenerasi, menurut dia, harus dibangun dengan memberi kesempatan kepada musisi muda untuk tampil bersama senior.

“Kita lihat dari dulu era 80-an, 90-an sampai sekarang banyak musisi Temanggung. Eman-eman kalau kita nggak ngopeni,” katanya.

Rock Ngisor Ringin pun menjadi ruang pertemuan antargenerasi. Pelajar mendapat kesempatan belajar tampil di depan penonton, sementara musisi senior tetap bisa mempertahankan eksistensinya.

Perbedaan usia tidak membuat panggung kehilangan warna. Emergency membawa lagu-lagu slow rock era 1990-an, sedangkan The Lalah tampil dengan karya sendiri. Trooper yang diisi musisi senior memilih lagu-lagu Iron Maiden.

Robot bahkan mengajak penonton bernostalgia melalui lagu Si Bandel milik Teaser, grup rock legendaris asal Temanggung. Mereka kemudian membawakan sejumlah lagu rock era 1990-an dengan permainan musik yang menonjolkan kemampuan teknis para personelnya.

Sementara Buas menghadirkan warna berbeda lewat karakter thrash metal. Mereka membawakan Arise dari Sepultura, Blacklist, serta sejumlah karya sendiri.

Bagi TRC, keberadaan panggung seperti ini bukan semata untuk mempertontonkan musik. Panggung menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan komunitas musik rock di Temanggung.

Ook berharap pemerintah daerah turut memberikan ruang bagi musisi lokal untuk tampil secara rutin. Selama ini, kegiatan komunitas masih banyak mengandalkan biaya swadaya.

“Kita berharap dari Pemerintah Daerah kita difasilitasi, diberi ruang untuk main di panggung. Selama ini kalau main kita urunan atau biaya sendiri. Kalau difasilitasi pemerintah, sangat bagus sekali, minimal sebulan sekali, sebab Temanggung banyak musisi,” ujarnya.

Di penghujung acara, Singosari menutup panggung dengan sajian lintas genre dan humor. Medley The Final Countdown, Yang Penting Hepi, Koi Mi Gaya, Lupa-lupa Ingat, hingga Ini Rindu membuat pertunjukan berakhir dalam suasana cair.

Dari panggung sederhana di bawah pohon beringin itulah pesan Rock Ngisor Ringin kembali ditegaskan: musik rock Temanggung tidak cukup hanya dikenang sebagai bagian dari masa lalu. Ia membutuhkan ruang agar generasi berikutnya dapat meneruskan jejaknya.

Editor : Eddie Prayitno

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network