Majelis Taklim di Tegal Berdayakan Ekonomi Umat Lewat Budidaya Lebah Madu

Yunibar
Peserta mengikuti pelatihan budidaya lebah madu di Majelis Taklim Baitul Atsar, Desa Slarang Kidul, Kabupaten Tegal, Minggu (25/10/2026). Kegiatan ini menjadi upaya pemberdayaan ekonomi umat.

TEGAL, iNewsPantura – Majelis taklim tak hanya menjadi ruang untuk memperdalam ilmu agama, tetapi juga bisa menjadi tempat belajar membangun kemandirian ekonomi keluarga.

Inilah yang dilakukan Majelis Taklim dan Madrasah Diniyah Awaliyah Baitul Atsar di Desa Slarang Kidul, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, dengan mengajak ibu rumah tangga dan remaja putri menekuni budidaya lebah madu.

Melalui pelatihan yang digelar Asosiasi Perlebahan Indonesia (API) Wilayah Tegal Raya, Minggu (25/10/2026), puluhan peserta diperkenalkan pada peluang usaha berbasis ekonomi hijau yang dapat dijalankan dari pekarangan rumah.

Pelatihan tersebut tidak hanya menyajikan teori, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk mempraktikkan langsung teknik budidaya lebah madu.

Mereka belajar mengenali lebah pekerja dan lebah ratu, membuat kotak koloni dari papan bekas, menentukan lokasi penempatan koloni di sekitar pepohonan, hingga memahami teknik pemanenan madu.

Dengan metode budidaya yang tepat, peserta diperkenalkan pada potensi pemanenan madu dalam waktu sekitar 12 hari.

Bagi para peserta, keterampilan tersebut menjadi peluang untuk menambah penghasilan keluarga tanpa harus meninggalkan aktivitas utama mengurus rumah tangga.

Tuningsih, salah seorang peserta asal Desa Slarang, mengaku tertarik menekuni budidaya lebah madu karena dinilai relatif mudah dilakukan dan tidak membutuhkan lahan luas.

“Perawatannya relatif mudah, modalnya tidak besar, tapi permintaan pasar tinggi. Saya ingin langsung praktik di pekarangan rumah untuk menambah penghasilan keluarga,” ujarnya.

Ketua API Wilayah Tegal Raya sekaligus pendiri Rumah Lebah Tegal, Tejo Asmoro, mengatakan tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa budidaya lebah madu memiliki daya tarik sebagai peluang usaha produktif.

Menurut dia, jumlah warga yang hadir dalam pelatihan bahkan jauh melampaui perkiraan panitia.

“Undangan hanya untuk 50 orang, yang datang tiga kali lipat. Madu lokal masih kurang pasokan, sementara permintaan terus naik. Ini peluang ekonomi hijau yang nyata,” jelasnya.

Kondisi tersebut, lanjutnya, membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lingkungan sekaligus memenuhi kebutuhan pasar terhadap madu lokal.

Budidaya lebah madu juga dapat menjadi alternatif usaha bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan. 

“Dalam Surah An-Nahl, Allah menjelaskan tentang lebah yang memiliki banyak manfaat. Melalui pengajian ini, kami memperkenalkan budidaya lebah sebagai peluang usaha yang tidak membutuhkan modal besar. Para jamaah juga belajar langsung bagaimana menjinakkan lebah liar agar bisa dibudidayakan,” pungkasnya.

Dengan pemanfaatan pekarangan dan pengelolaan koloni yang tepat, kegiatan ini berpotensi dikembangkan sebagai usaha rumahan. 

Pengembangan keterampilan ekonomi masyarakat melalui kegiatan keagamaan menjadi alasan utama Ustad Fairus Azmi, pengasuh Majelis Taklim dan Madrasah Diniyah Awaliyah Baitul Atsar, menginisiasi pelatihan tersebut.

Ia ingin majelis taklim tidak hanya menjadi tempat untuk memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga berperan dalam meningkatkan kesejahteraan jamaah.

“Selama ini pengajian hanya berisi kajian agama. Saya ingin majelis juga mendorong ekonomi umat. Budidaya lebah madu adalah ekonomi hijau sekaligus kreatif. Bisa memanfaatkan lahan sempit, ramah lingkungan, dan menghasilkan produk bernilai tinggi,” katanya.

Menurut Fairus, pendekatan tersebut diharapkan mampu memperluas manfaat majelis taklim dalam kehidupan masyarakat. Selain memperoleh ilmu agama, jamaah juga mendapatkan keterampilan praktis yang dapat diterapkan untuk membangun usaha mandiri.

Pelatihan ini sekaligus memperkenalkan konsep ekonomi hijau kepada masyarakat melalui kegiatan produktif yang memanfaatkan potensi alam tanpa membutuhkan lahan luas.

Antusiasme peserta terlihat hingga akhir kegiatan. Sejumlah peserta bahkan meminta terapi kesehatan menggunakan sengatan lebah sebagai bagian dari ketertarikan mereka terhadap berbagai manfaat yang dikaitkan dengan perlebahan.

Sebagai tindak lanjut pelatihan, peserta membawa pulang satu kotak koloni lebah dan biji bunga matahari secara gratis untuk dipraktikkan di rumah masing-masing.

Pemberian koloni lebah tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi peserta untuk mencoba budidaya secara langsung, sedangkan biji bunga matahari dapat dimanfaatkan untuk mendukung ketersediaan sumber pakan bagi lebah.

Melalui pelatihan ini, majelis taklim di wilayah Tegal diharapkan dapat mengembangkan peran yang lebih luas, yakni sebagai pusat pembelajaran agama sekaligus pemberdayaan ekonomi umat.

Di tengah meningkatnya kebutuhan rumah tangga, inisiatif tersebut menawarkan alternatif kegiatan produktif yang dapat dimulai dari lingkungan sendiri.

Jika dilakukan pendampingan dan pengelolaan yang baik, budidaya lebah madu berpotensi menjadi sumber penghasilan tambahan sekaligus mendorong tumbuhnya ekonomi umat yang kreatif dan ramah lingkungan.

Editor : Yunibar SP

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network