TEMANGGUNG,iNewsPantura.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Sumbing, Jawa Tengah, telah padam. Namun, dampaknya masih dirasakan masyarakat, terutama warga Desa Batursari, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung.
Kerusakan jaringan pipa dan vegetasi di sekitar sumber mata air menyebabkan pasokan air bersih bagi lebih dari 1.800 warga terganggu.
Aliran air yang biasanya tersedia sejak pagi hingga sore hari kini hanya mengalir sekitar satu jam. Kondisi tersebut dikhawatirkan berlangsung lama apabila jaringan pipa tidak segera diperbaiki dan kawasan mata air tidak direhabilitasi.
Perwakilan Basecamp Pendakian Gunung Sumbing via Batursari, David Wisnu Setiawan, mengatakan kebakaran merusak jaringan pipa yang mengalirkan air dari tiga sumber mata air. Salah satu sumber tersebut berada di ketinggian sekitar 3.000 meter di atas permukaan laut.
“Biasanya aliran air hidup dari pagi sampai sore. Ini hari ini (Minggu) hidup cuma satu jam saja,” ungkap David, Minggu 25 oktober 2026.
Menurut dia, kerusakan jaringan pipa dan vegetasi di sekitar mata air berpotensi mengganggu ketersediaan air dalam jangka panjang. Warga berharap pemerintah segera memperbaiki jaringan perpipaan sekaligus melakukan penghijauan kembali di kawasan yang terbakar.
“Harapan kami dari Batursari, segera dilakukan penghijauan kembali dan jaringan pipa air segera terpasang kembali. Karena kalau tidak segera, akan semakin lama sumber mata air normal. Bisa sampai dua hingga tiga tahun,” ujarnya.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan, pemulihan pascakebakaran menjadi prioritas pemerintah sebelum kawasan Gunung Sumbing kembali dibuka untuk aktivitas masyarakat, termasuk pendakian.
Hal itu disampaikan Luthfi saat mengunjungi Basecamp Pendakian Bimawari di Dukuh Seman, Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, Minggu (25/10/2026).
Menurut Luthfi, pemadaman api bukan menjadi akhir dari penanganan bencana. Pemerintah masih harus mengevaluasi dampak kerusakan, memulihkan lingkungan, serta memastikan fasilitas dasar masyarakat kembali berfungsi.
“Meskipun api telah berhasil dipadamkan, pemerintah masih akan melakukan evaluasi pascakebakaran, terutama terkait pemulihan lingkungan, perbaikan fasilitas dasar masyarakat, serta pendataan dampak kerusakan,” katanya.
Ia memastikan jaringan pipa air yang terbakar atau rusak akan menjadi perhatian untuk segera dipulihkan agar kebutuhan dasar masyarakat kembali terpenuhi.
“Banyak pipa-pipa kita yang terbakar atau rusak, itu harus kita recovery kembali,” tegasnya.
Pemulihan akan melibatkan pemerintah daerah, Perhutani, Dinas Lingkungan Hidup, Cabang Dinas Kehutanan, TNI, dan Polri. Selain perbaikan jaringan air, pemerintah juga menyiapkan reboisasi menggunakan tanaman yang sesuai dengan karakteristik kawasan pegunungan.
Pendataan kerusakan akan dilakukan secara terperinci di wilayah Temanggung, Wonosobo, dan Magelang. Pendataan meliputi luas lahan terdampak, kerusakan vegetasi, serta fasilitas dasar masyarakat yang membutuhkan penanganan.
Meski api telah padam, pemerintah masih menutup sementara aktivitas pendakian di sejumlah kawasan gunung, termasuk Gunung Sumbing. Pembukaan kembali akan mempertimbangkan hasil pendataan kerusakan, penyelesaian perbaikan jaringan pipa air, serta terpenuhinya layanan dasar masyarakat.
Luthfi menegaskan, evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh agar pembukaan kawasan tidak menimbulkan risiko baru.
“Jangan sampai nanti dibuka, kemudian terjadi kebakaran lagi. Jadi, kita lakukan evaluasi dulu sampai mempunyai basis data, pendataan kerusakan, kemudian pipanisasi selesai, dan layanan dasar terpenuhi, baru kita buka kembali,” ungkapnya.
Masyarakat juga diimbau tidak membuang puntung rokok sembarangan maupun melakukan pembakaran tanpa pengawasan guna mencegah terulangnya kebakaran.
Kebakaran di kawasan Gunung Sumbing wilayah Kabupaten Temanggung dinyatakan padam pada Sabtu (24/10/2026) pukul 13.45 WIB. Bupati Temanggung Agus Setyawan saat itu memantau kondisi kawasan melalui Dukuh Seman, Desa Wonosari, Kecamatan Bulu.
Luas kawasan terdampak kebakaran di Kabupaten Temanggung mencapai 398,89 hektare. Vegetasi yang terbakar mayoritas berupa mlanding gunung dan savana.
Meski api telah padam, tim gabungan dan relawan masih melakukan penanganan pascakebakaran, termasuk mendata kebutuhan pemulihan kawasan.
Pemerintah berharap perbaikan jaringan perpipaan dan rehabilitasi hutan dapat segera dilakukan. Langkah tersebut tidak hanya untuk memulihkan ekosistem Gunung Sumbing, tetapi juga menjaga keberlanjutan sumber mata air yang menjadi tumpuan kebutuhan sehari-hari masyarakat di sekitarnya.
Editor : Eddie Prayitno
Artikel Terkait
