Akses Utama Ekonomi dan Wisatawan Rehabilitasi Jembatan Rahtawu-Semliro Dikebut

Nur Choiruddin
Pekerjaan pembangunan Jembatan Rahtawu-Semliro. Nur Choiruddin/iNews

KUDUS, iNewspantura.id – Rehabilitasi Jembatan Rahtawu-Semliro di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, terus dikebut. Hingga Selasa (11/8/2026), progres pekerjaan jembatan yang menjadi salah satu akses utama menuju kawasan wisata Rahtawu tersebut telah mencapai sekitar 23,6 persen.

Pekerjaan dengan anggaran sekitar Rp1,5 miliar dari APBD Kabupaten Kudus 2026 itu dilakukan untuk memperkuat sekaligus memperlebar konstruksi jembatan yang selama ini dinilai sudah tidak memadai.

Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kudus, Supriyadi, mengatakan kondisi jembatan sebelumnya mengalami kerusakan pada bagian penyangga atau abutmen.

Selain konstruksinya yang mulai keropos, lebar jembatan yang hanya sekitar tiga meter juga menyulitkan kendaraan roda empat ketika berpapasan.

"Pertama memang aksesnya terlalu sempit, kemudian penyangga jembatan sudah rusak sehingga kami usulkan perbaikan," kata Supriyadi.

Dalam rehabilitasi tersebut, jembatan akan diperlebar menjadi delapan meter dengan lebar enam meter. Struktur jembatan menggunakan konstruksi beton, termasuk box culvert dan talud. Sementara bagian permukaan jembatan akan dilapisi aspal jenis AC-WC.

Saat ini pekerjaan masih memasuki tahap pengecoran abutmen. Pemkab Kudus juga menyiapkan jembatan darurat agar mobilitas warga tetap berjalan selama proses pembangunan.

"Rehabilitasi ini untuk memperkuat struktur sekaligus memperlebar jembatan sehingga kendaraan bisa melintas dengan lebih aman dan nyaman," ujarnya.

Sementara itu, Edy Supriyanto dari CV. Dila Bangun Perkasa, mengaku sejauh ini tidak ada kendala dalam pengerjaannya. Dia hanya menyebutkan, karena ini adalah jembatan di atas sungai pegunungan, hal yang cukup merepotkan hanya soal pengangkatan batu untuk lokasi podasi yang besar-besar.

“Untuk mengatasi hal tersebut saya mambawa dua unit alat berat khusus ke atas sini. Selain itu distribusi bahan baku cukup repot. Tapi sejauh ini semuanya lancar. Dan Insaya Allah awal Sepetember sudah masuk finishing. Lebih cepat dari yang dijadwal dinas PUPR,” ujarnya.

Jembatan Rahtawu-Semliro memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu akses menuju sejumlah destinasi wisata di Desa Rahtawu. Di antaranya kawasan pendakian Puncak 29, Seribu Batu, serta sejumlah air terjun yang menjadi tujuan wisatawan.

"Ini merupakan akses utama menuju kawasan wisata di Rahtawu, termasuk basecamp pendakian Puncak 29, wisata Seribu Batu, air terjun dan lainnya," kata Supriyadi.

Pemkab Kudus berharap pembangunan dapat diselesaikan lebih cepat sehingga akses masyarakat dan wisatawan kembali normal tanpa harus menunggu hingga batas akhir masa kontrak.

Rahtawu-Semliro menjadi salah satu dari enam jembatan penghubung yang mendapatkan prioritas penanganan Pemkab Kudus pada 2026.

Berdasarkan data Dinas PUPR, total anggaran untuk pembangunan dan rehabilitasi enam jembatan tersebut mencapai sekitar Rp11,69 miliar. Keenamnya tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Kudus, yakni Karangmalang-Peganjaran, Jojo-Kesambi, Lambangan-Berugenjang, Rahtawu-Semliro, Kawakan-Gringging, serta Medini-Kutuk.

Penanganan dilakukan berdasarkan kondisi masing-masing jembatan. Di Lambangan-Berugenjang, pekerjaan dilakukan karena terjadi penurunan struktur. Sedangkan jembatan di Gringging membutuhkan penanganan akibat gerusan aliran sungai dan ukuran lebar jembatan yang sudah tidak memadai.

Sementara di Rahtawu-Semliro, pekerjaan difokuskan pada pelebaran jembatan sekaligus penguatan struktur abutmen. Struktur lama yang menggunakan pasangan batu kali diperkuat dengan beton bertulang.

Selain Rahtawu-Semliro, pembangunan Jembatan Karangmalang-Peganjaran menjadi salah satu pekerjaan yang progresnya cukup signifikan. Hingga akhir Juli 2026, progresnya dilaporkan telah mencapai sekitar 80 persen.

Jembatan tersebut dibangun ulang karena konstruksi lama berupa pasangan bata mengalami kerusakan dan tidak lagi mampu melayani kendaraan roda empat. Struktur baru menggunakan box culvert beton bertulang dengan bentang yang diperbesar sehingga dapat melayani lalu lintas dua arah. Nilai kontraknya tercatat sekitar Rp772,65 juta dan bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

“Secara keseluruhan, pembangunan dan rehabilitasi enam jembatan tersebut diarahkan untuk memperkuat konektivitas antarkawasan sekaligus mendukung peningkatan kemantapan infrastruktur jalan dan jembatan di Kabupaten Kudus,” kata Supriyadi.

Dinas PUPR mencatat tingkat kemantapan jalan dan jembatan Kabupaten Kudus saat ini berada di angka 94,01 dari sebelumnya sebesar 91,29 persen.

 

Editor : Eddie Prayitno

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network