Terik Matahari Jadi Berkah, Lapangan Bola di Ngampel Dipenuhi Tembakau

Eddhie Prayitno
Tembakau yang dirajang dijemur di lapangan sepak bola desa, pemandangan yang terjadi saat musim panen. (Foto: Eddie Prayitno/iNews).

KENDAL,iNewsPantura.id – Teriknya matahari di musim kemarau membawa berkah tersendiri bagi petani tembakau di Desa Kebonagung, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal. Namun, tingginya kebutuhan lahan untuk menjemur tembakau membuat petani harus mencari ruang alternatif.

Lapangan Sepak Bola Tunggul Agung menjadi salah satu solusi. Saat musim tembakau berlangsung, lapangan tersebut berubah fungsi sementara menjadi lokasi penjemuran tembakau rajangan.

Ribuan rigen berisi tembakau digelar di atas lapangan agar terkena sinar matahari langsung. Aktivitas ini dilakukan petani hingga tembakau benar-benar kering dan siap diproses lebih lanjut.

Salwi (64), salah satu petani tembakau, mengatakan lapangan tersebut sangat membantu karena kebutuhan lahan untuk menjemur tembakau cukup besar.

Rumahnya yang berjarak sekitar 200 meter dari lapangan membuatnya rutin membawa hasil rajangan ke lokasi tersebut setiap musim panen.

“Ketika saya ngerajang, selalu memanfaatkan lapangan untuk menjemur tembakau rajangan,” ujar Salwi.

Menurut Salwi, satu keranjang tembakau kering membutuhkan sekitar 80-90 rigen ketika masih berupa rajangan basah. Dengan ukuran rigen 90 sentimeter x 200 sentimeter, kebutuhan tempat penjemuran mencapai sekitar 150 meter persegi.

Kondisi tersebut membuat halaman rumah tidak selalu mampu menampung seluruh tembakau. Menjemur di tepi jalan juga dinilai kurang aman dan berisiko menurunkan kualitas tembakau akibat paparan debu kendaraan.

“Kalau dijemur di lapangan selain tidak mengganggu, hampir tidak ada debu yang menempel di tembakau,” katanya.

Bagi pengelola lapangan, penggunaan fasilitas tersebut sebagai lokasi penjemuran juga memberikan manfaat ekonomi.

Koordinator Pengelola Lapangan Sepak Bola Tunggul Agung, Wakhidun, mengatakan lapangan mampu menampung sekitar 3.500 rigen atau sekitar 35 keranjang tembakau. Petani dikenai biaya Rp15 ribu untuk setiap keranjang tembakau kering.

“ Satu keranjang tembakau kering biasanya 80-100 rigen. Kami mematok Rp15 ribu,” jelasnya.

Dalam kondisi lapangan ramai digunakan, pendapatan dari sewa tempat penjemuran bisa mencapai lebih dari Rp500 ribu dalam sehari.

Uang tersebut kemudian digunakan untuk kebutuhan perawatan lapangan, seperti pemotongan rumput, perawatan gawang dan pengecatan garis lapangan. Sebagian juga dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan sepak bola, termasuk mengundang tim untuk latihan bersama.

Pemanfaatan lapangan untuk menjemur tembakau berlangsung sekitar dua bulan dalam satu musim.

Namun, pengelola tetap menjaga agar fungsi utama lapangan sebagai fasilitas olahraga tidak terganggu. Warga dilarang menggembala kambing, domba maupun sapi di dalam area lapangan.

Aturan tersebut diterapkan untuk menjaga kebersihan dan mencegah kerusakan rumput.

Bagi petani, keberadaan lapangan menjadi solusi atas persoalan keterbatasan lahan. Sementara bagi pengelola, musim tembakau justru membuka peluang pemasukan tambahan untuk menjaga fasilitas olahraga tetap terawat.

Editor : Eddie Prayitno

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network