Bukan Sekadar Tukar Jajanan, Tradisi Weh-Wehan Jadi Perekat Warga Kaliwungu Kendal

Eddhie Prayitno
Warga kaliwungu bertukar makanan dalam tradisi weh-wehan sambutt Maulud Nabi Muhammad SAW. (Foto: Eddie prayitno/ iNews).

KENDAL,iNewsPantura.id – Riuh anak-anak berkeliling kampung membawa makanan menjadi pemandangan khas di Kaliwungu, Kabupaten Kendal, setiap memasuki bulan Maulud. Mengenakan pakaian terbaik, mereka mendatangi rumah tetangga untuk saling bertukar makanan dalam tradisi weh-wehan atau ketuwing.

Bagi masyarakat Kaliwungu, Maulud bukan sekadar momentum memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Bulan ini memiliki kemeriahan tersendiri dan bahkan dianggap sebagai lebaran ketiga, setelah Idul Fitri dan Idul Adha.

Tradisi weh-wehan menjadi salah satu kegiatan yang paling dinanti. Hampir di berbagai kampung di Kaliwungu, warga turut meramaikan tradisi tersebut. Tidak hanya anak-anak, orang tua dan remaja juga ikut menjaga keberlangsungannya.

Di Kampung Kenduruan, Desa Krajan Kulon, suasana perayaan berlangsung semarak. Anak-anak membawa makanan dari rumah masing-masing kemudian berkeliling menemui tetangga.

Makanan yang dibawa tidak harus mahal. Berbagai jajanan dan makanan sehari-hari dapat menjadi bagian dari weh-wehan. Namun, sejumlah makanan tradisional seperti sumpil dan ketan warna-warni tetap menjadi sajian yang khas.

Sumpil dibuat dari beras yang dibungkus daun bambu. Makanan tersebut kemudian disantap bersama parutan kelapa yang telah dibumbui. Sajian sederhana itu menjadi salah satu makanan yang melekat dengan tradisi Maulud di Kaliwungu.

Warga Kenduruan, Muhammad Alif, mengatakan weh-wehan memiliki keunikan karena mengajarkan masyarakat untuk saling berbagi.

“Ini tradisi saling memberi makanan kepada orang lain dan menjadi tradisi khas Kaliwungu untuk memperingati Maulud Nabi,” katanya.

Lebih dari sekadar mendapatkan makanan, anak-anak belajar berinteraksi dengan tetangga. Mereka berjalan dari satu rumah ke rumah lainnya, bersilaturahmi, sekaligus membawa pulang makanan untuk dinikmati bersama keluarga.

Tokoh masyarakat Kaliwungu, Muhammad Tommy Fadlurrahman, menjelaskan, istilah weh-wehan berasal dari bahasa Jawa aweh yang berarti memberi. Filosofi tersebut menjadi inti dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun itu.

Menurut dia, masyarakat diajarkan untuk berbagi kepada siapa saja tanpa membedakan status sosial. Nilai tenggang rasa dan kebersamaan menjadi pesan utama yang terus dipertahankan.

Tradisi tersebut juga tidak lepas dari peran Mbah Akhmad Rukyat, sesepuh dan ulama Kaliwungu yang turut memopulerkan ketuwing sebagai tradisi kebersamaan masyarakat.

“Warga berkeliling dari rumah ke rumah untuk bertukar makanan. Setelah itu makanan dibawa pulang dan dinikmati bersama keluarga,” jelas Tommy.

Di tengah perubahan zaman, weh-wehan menjadi salah satu kearifan lokal yang masih bertahan. Tradisi ini bukan hanya menghadirkan kemeriahan Maulud, tetapi juga menjadi cara masyarakat Kaliwungu mewariskan semangat berbagi dan mempererat persaudaraan kepada generasi berikutnya.

Bagi warga Kaliwungu, kemeriahan Maulud akhirnya bukan diukur dari banyaknya makanan yang dibagikan. Yang lebih penting adalah silaturahmi yang terjalin dan kebiasaan saling memberi yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Editor : Eddie Prayitno

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network