Petani Sawit Dibekali Pemahaman ISPO, Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar Jadi Perhatian

Heru Trijoko
Kegiatan Paparan Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit di Yogyakarta. dokumen

YOGYAKARTA, iNewsPantura.id— Penguatan sumber daya manusia (SDM) pekebun kelapa sawit tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Pemahaman mengenai pengelolaan perkebunan yang legal dan ramah lingkungan juga menjadi bagian penting, termasuk mencegah praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.

Kepala Divisi Penyaluran Dana SDM Perkebunan, Sudi Bawa Suwita, mengatakan edukasi kepada pekebun diperlukan agar praktik perkebunan semakin memperhatikan aspek lingkungan sekaligus memenuhi ketentuan yang berlaku.

Salah satu materi yang diberikan melalui program pengembangan SDM perkebunan kelapa sawit adalah pemahaman mengenai Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

"Dari sisi pengembangan SDM, kami mencoba memberikan kesadaran kepada petani sawit bahwa dalam menjalankan usaha secara berkelanjutan ada hal-hal yang harus diperhatikan," kata Sudi, Kamis (24/9/2026).

Menurut dia, pemahaman mengenai ISPO tidak sebatas persoalan administrasi atau legalitas. Pekebun juga diperkenalkan dengan pengelolaan lingkungan sebagai bagian dari praktik perkebunan berkelanjutan.

"ISPO itu ada aspek legalnya, kemudian bagaimana menjaga lingkungan. Harapannya, pemahaman itu bisa diterapkan sehingga nantinya dapat memenuhi persyaratan sertifikasi," ujarnya.

Salah satu aspek yang ditekankan dalam edukasi tersebut adalah larangan membuka maupun mengelola lahan dengan cara membakar.

Sudi mengatakan peningkatan pengetahuan pekebun mengenai aturan dan teknik pengelolaan lahan menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran agar praktik pembakaran tidak dilakukan.

"Kalau petani memiliki kesadaran untuk mengikuti apa yang diajarkan dalam pelatihan, seharusnya hal itu juga bisa mencegah pembakaran lahan," katanya.

Ia menambahkan, pemerintah telah memiliki regulasi yang melarang pembukaan atau pengelolaan lahan dengan cara membakar. Karena itu, pekebun diharapkan menjalankan kegiatan perkebunan dengan memperhatikan ketentuan tersebut.

Meski demikian, Sudi tidak menyimpulkan bahwa kebakaran lahan secara keseluruhan berkaitan dengan pembukaan perkebunan kelapa sawit. Ia mengaku belum memiliki data yang cukup untuk membuat kesimpulan tersebut.

"Saya secara data belum tahu," ujarnya.

Sudi menyebut terdapat hasil penelitian dari pihak eksternal yang menunjukkan sejumlah kejadian kebakaran terjadi di lahan-lahan terlantar. Karena itu, menurut dia, pengelolaan lahan secara produktif dan sesuai aturan juga menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko kebakaran.

Pengembangan SDM, lanjut Sudi, diarahkan agar pekebun memiliki pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai usaha perkebunan.

"Dari sisi kami, pengembangan SDM diarahkan untuk memberikan kesadaran kepada petani agar pengelolaan sawit dilakukan secara berkelanjutan," katanya.

Dengan demikian, peningkatan kompetensi pekebun tidak hanya berkaitan dengan bagaimana meningkatkan hasil produksi. Aspek legalitas, perlindungan lingkungan, kepatuhan terhadap regulasi, serta penerapan praktik perkebunan berkelanjutan juga menjadi bagian dari pengetahuan yang perlu dimiliki pekebun kelapa sawit.

Pemahaman tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam aktivitas perkebunan sehari-hari sehingga pengelolaan sawit tidak hanya produktif, tetapi juga sesuai ketentuan dan memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Editor : Eddie Prayitno

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network