PURWOREJO,iNewsPantura.id – Memasuki usia enam tahun, RSUD RAA Tjokronegoro Purworejo terus membenahi kualitas pelayanan. Sejumlah evaluasi dan masukan masyarakat dibahas dalam Forum Konsultasi Publik (FKP) yang digelar di aula RSUD RAA Tjokronegoro, Rabu (30/9/2026).
Forum tersebut dihadiri Ketua Komisi IV DPRD Purworejo KH Ahmad Tawabi, Kepala Bagian Organisasi Setda Sigit Kurniawan Saputro, Plt Kepala Dinas Kesehatan dr. Budi Susanti, perwakilan Dishub, Organda, akademisi, tenaga kesehatan, komunitas, serta LSM.
Direktur RSUD RAA Tjokronegoro, dr. Nunik Sulistyaningsih, mengatakan 1 September 2026 menjadi penanda enam tahun berdirinya rumah sakit tersebut.
Menurutnya, selama enam tahun perjalanan, RSUD Tjokronegoro terus melakukan transformasi dengan fokus pada peningkatan mutu pelayanan sekaligus membangun kepercayaan masyarakat.
“Transformasi enam tahun RSUD Tjokronegoro menguatkan mutu, menghadirkan kepercayaan,” ujar Nunik.
Salah satu indikator pelayanan terlihat dari hasil survei Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) yang mencapai 88,31. Nilai tertinggi dalam survei tersebut terdapat pada aspek kewajaran biaya.
Sebagai rumah sakit kelas C, manajemen menargetkan nilai IKM meningkat menjadi 93 pada tahun depan.
Selain mengejar peningkatan kepuasan masyarakat, RSUD Tjokronegoro juga melakukan sejumlah pembenahan berdasarkan hasil FKP tahun 2025.
Di antaranya penambahan atap untuk area parkir sepeda motor, pembenahan marka dan penerangan jalan di sekitar rumah sakit, perbaikan waktu tunggu pelayanan, serta penambahan kursi di ruang tunggu, terutama poli penyakit dalam dan saraf.
Manajemen juga memperbarui website rumah sakit untuk memudahkan masyarakat memperoleh informasi layanan.
Untuk waktu tunggu obat, pasien kini dapat memantau estimasi obat melalui telepon seluler. Rumah sakit juga menyiapkan layanan pengantaran obat melalui pos sebagai bagian dari efisiensi pelayanan.
Tahun ini, RSUD Tjokronegoro melakukan perubahan standar pelayanan publik, khususnya pada layanan rawat jalan, farmasi, dan hemodialisa.
Pada layanan farmasi rawat jalan dan IGD, penerbitan nomor antrean kini dilakukan secara otomatis melalui Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIM RS) setelah dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP) melakukan entry e-Resep.
Sebelumnya, pasien atau keluarga harus menuju depo farmasi dan menyerahkan checklist bukti pelayanan kepada petugas farmasi.
Perubahan tersebut membuat proses antrean farmasi terintegrasi dengan entry e-Resep melalui SIM RS.
Sementara layanan hemodialisa juga terus berkembang. Nunik menyebut jumlah pasien cuci darah mengalami peningkatan dan setiap hari selalu terdapat pasien yang menjalani hemodialisa.
Dari sisi kebutuhan ruang rawat inap, manajemen mencatat permintaan masyarakat paling banyak berada pada kelas 1 dan kelas 3. Kondisi tersebut mendorong ruang VVIP untuk dialihfungsikan menjadi kelas 3.
RSUD Tjokronegoro juga terus mengembangkan layanan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Layanan rawat jalan saat ini dinilai sudah cukup lengkap dan ke depan akan diperkuat dengan layanan neurologi serta konsultasi gigi.
Adapun salah satu layanan unggulan yang dikembangkan adalah bedah minimal invasif. Layanan tersebut disebut menjadi satu-satunya layanan sejenis di Kabupaten Purworejo.
Di sisi lain, rumah sakit menetapkan sejumlah prioritas perbaikan pelayanan, yakni peningkatan mutu secara berkelanjutan, efisiensi waktu tunggu obat rawat jalan, pemeliharaan ruang rawat jalan dan rawat inap, peningkatan sarana-prasarana berbasis kompetensi, serta edukasi pasien dengan mengedepankan prinsip senyum dan sapa.
Dalam enam tahun terakhir, RSUD Tjokronegoro mencatat total 66 aduan masyarakat. Khusus periode Januari hingga September 2026, terdapat 11 aduan, dengan WhatsApp menjadi saluran yang paling banyak digunakan masyarakat.
Aduan terbanyak berkaitan dengan prosedur pelayanan. Masyarakat dapat menyampaikan pengaduan melalui akun pemerintah daerah, kanal resmi rumah sakit maupun media sosial.
Nunik mengatakan kritik, saran, dan masukan yang muncul dalam FKP menjadi bahan penting bagi manajemen untuk memperbaiki sekaligus mengembangkan layanan.
“Masukan, saran dan kritik ini tentunya akan kami jadikan bahan untuk mengembangkan layanan agar semakin berkembang dan maju,” katanya.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Purworejo KH Ahmad Tawabi memberikan pesan kepada jajaran direksi RSUD Tjokronegoro agar tidak menjadikan jumlah pasien sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan rumah sakit.
Ia menyampaikan, apabila jumlah pasien sedikit, hal tersebut semestinya juga dapat disyukuri karena berarti masyarakat dalam kondisi sehat. Namun, ketika masyarakat membutuhkan layanan, kualitas pelayanan rumah sakit tetap menjadi bagian penting dalam proses kesembuhan pasien.
Apresiasi juga disampaikan Kepala Bagian Organisasi Setda Sigit Kurniawan Saputro dan Plt Kepala Dinas Kesehatan dr. Budi Susanti terhadap pelaksanaan FKP oleh RSUD Tjokronegoro.
Keduanya berharap forum tersebut tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi sarana untuk menyerap kebutuhan masyarakat dan diterjemahkan menjadi perbaikan pelayanan.
RSUD Tjokronegoro diharapkan terus berkembang dan meningkatkan kualitas layanan sehingga kehadirannya semakin mampu memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat Purworejo.
Editor : Eddie Prayitno
Artikel Terkait
