Industri di Kendal Tertekan Antrean Kapal, Desak Perluasan Pelabuhan Semarang dan Kendal
KENDAL,iNewsPantura.id – Kinerja industri di Kabupaten Kendal mulai terdampak persoalan klasik: keterbatasan kapasitas Pelabuhan Tanjung Emas. Antrean panjang kapal dan padatnya jalur distribusi dinilai menghambat arus masuk bahan baku sekaligus pengiriman barang ekspor.
Pelaku usaha menyebut waktu tunggu kapal untuk bersandar kini semakin lama. Kondisi ini tidak hanya menambah biaya logistik, tetapi juga berisiko mengganggu stabilitas produksi di dalam negeri.
Presiden Direktur BTR, Wu Lei, mengatakan pihaknya harus menunggu hingga lima sampai tujuh hari untuk kedatangan bahan baku grafit sebagai komponen anoda baterai litium-ion. Padahal sebelumnya, kapal dapat bersandar hampir setiap hari tanpa hambatan berarti.
“Sekarang harus antre lebih lama karena kepadatan di pelabuhan,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).
Dampak lain juga dirasakan pada aktivitas ekspor. Dalam kondisi normal, perusahaan mengirim sekitar 600 kontainer per bulan melalui Semarang. Namun, angka tersebut berpotensi meningkat jika sistem logistik berjalan lancar tanpa hambatan di pelabuhan.
Masalah tidak berhenti di dermaga. Keterbatasan armada truk trailer turut memperparah distribusi kontainer dari kawasan industri menuju pelabuhan. Kondisi ini membuat rantai pasok menjadi kurang efisien.
Hal senada diungkapkan Executive Vice President pabrik ban, Wu Yuejun. Ia menyebut perusahaannya kerap mengalami keterlambatan bongkar muat hingga lima hari. Padahal bahan baku didatangkan dari berbagai negara seperti Amerika dan Vietnam.
Perusahaan tersebut mempekerjakan sekitar 3.600 tenaga kerja dan mengekspor hingga 1.000 kontainer per bulan ke sejumlah negara, termasuk Amerika dan Brasil. Namun, pengiriman keluar juga tidak luput dari antrean yang bisa mencapai dua hingga tiga hari.
Sementara itu, General Manager Polygroup Manufaktur Indonesia, Nicholas Lau, menyoroti lonjakan aktivitas logistik pada pertengahan tahun. Pada periode Juni hingga September, pergerakan barang bisa mencapai 300 hingga 400 kontainer per hari. Situasi tersebut semakin kompleks dengan adanya pembatasan operasional truk di sejumlah jalur.
Para pelaku industri menilai, solusi jangka panjang harus segera diambil. Selain memperbesar kapasitas pelabuhan yang ada, percepatan pembangunan pelabuhan baru di Kendal dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk mendukung pertumbuhan industri berorientasi ekspor.
Menanggapi hal itu, Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, menegaskan bahwa pembangunan pelabuhan merupakan kewenangan pemerintah pusat. Meski demikian, pemerintah daerah bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengusulkan pembangunan pelabuhan Kendal kepada Kementerian Perhubungan.
Secara regulasi, rencana tersebut telah memiliki landasan, di antaranya Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2019 dan Perpres Nomor 60 Tahun 2020, serta ketentuan Kementerian Perhubungan yang menetapkan terminal Kendal sebagai bagian dari pelabuhan utama Tanjung Emas.
Dengan dukungan regulasi dan tingginya minat investor, pelaku industri berharap pemerintah pusat segera merealisasikan pembangunan pelabuhan di Kendal. Langkah ini dinilai penting untuk memperlancar arus logistik, meningkatkan daya saing industri, serta mendorong pertumbuhan ekspor nasional.
Editor : Eddie Prayitno