Menu MBG di Todanan Blora Tak Layak Dikonsumsi, Mitra Minta Maaf

Herry Purnomo
Penampakan menu MBG yang tidak layak konsumsi di Blora. dokumen

BLORA, iNewsPantura. id — Program Makan Bergizi (MBG) di Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora diduga tak memenuhi gizi sesuai standart. Pasalnya, menu yang disajikan untuk anak-anak tidak layak untuk dikonsumsi.

Dalam dokumentasi yang beredar, paket MBG yang dibagikan kepada anak-anak hanya berisi seporsi nasi putih, satu telur rebus, sedikit tempe orek, dan sebuah pisang. Sementara beberapa sekat wadah makan berbahan aluminium tampak kosong tanpa isi.

Kondisi tersebut menuai kritik dari masyarakat. Banyak yang menilai menu itu tidak cukup memenuhi kebutuhan gizi harian anak-anak yang seharusnya menjadi sasaran utama program Badan Gizi Nasional (BGN).

"Kalau hanya nasi, satu telur, tempe sedikit, dan pisang, apa sudah layak disebut makan bergizi? Anak-anak butuh protein, vitamin, dan sayuran, ini menu Kamis kemarin," ungkap Isna salah satu orang tua murid di Todanan, Jumat (29/8/2025).

Selain dianggap tidak bergizi, porsi makanan yang terbatas juga dikhawatirkan tidak mampu menunjang pertumbuhan dan kesehatan anak-anak. Program yang sejatinya dirancang untuk menanggulangi masalah gizi justru terkesan sekadar formalitas.

Masyarakat berharap agar pemerintah daerah melakukan evaluasi serius terhadap pelaksanaan MBG di Todanan, baik dari sisi menu, kualitas, maupun pengawasan.

"Kalau dibiarkan, tujuan program ini tidak akan tercapai. Anak-anak malah bisa kekurangan asupan yang seharusnya mereka dapatkan," tambahnya.

Ketua Komisi D DPRD Blora, Subroto, angkat bicara terkait menu Makan Bergizi (MBG) di Kecamatan Todanan yang ramai dinilai tidak layak dan kurang bergizi. Menurutnya, kondisi tersebut sangat memprihatinkan dan tidak sesuai dengan tujuan awal program.

“Program MBG ini seharusnya menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak. Kalau yang disajikan hanya nasi, sedikit tempe, satu telur, dan pisang, jelas ini tidak layak dan tidak memenuhi standar gizi seimbang,” tegas Subroto.

Ia menambahkan, Komisi D DPRD Blora akan segera memanggil dinas terkait untuk meminta penjelasan sekaligus melakukan evaluasi menyeluruh.

“Kami ingin tahu kenapa bisa terjadi seperti ini. Ada anggaran yang digelontorkan, tentu harus digunakan dengan benar agar menu yang disajikan betul-betul bergizi,” lanjutnya.

Subroto juga menekankan pentingnya transparansi dan pengawasan agar program MBG tidak hanya menjadi formalitas.

“Jangan sampai ini hanya seremonial. Anak-anak kita butuh asupan gizi yang cukup, bukan sekadar nasi dan lauk seadanya. Kalau memang ada kekurangan, harus segera diperbaiki,” pungkasnya.

Sementara itu, anggota Koramil Todanan saat dikonfirmasi bahwa pihaknya sudah menegur kepala dapur yang bersangkutan untuk di evaluasi agar kedepannya tidak terulang lagi.

"Kemarin kepala dapur yang bersangkutan sudah kami beri teguran, tentunya ini akan menjadi bahan evaluasi agar kedepannya tidak terulang lagi dan menjadi lebih baik," tutupnya.

Terpisah Kusyanto, mitra MBG di Tonanan mengakui bahwa menu yang sempat beredar luas di media sosial tersebut bukanlah representasi penuh dari menu harian MBG. Ia menambahkan bahwa pada hari tertentu memang ada keterbatasan bahan sehingga porsi terlihat minim.

“Memang benar ada dokumentasi yang menampilkan nasi, satu butir telur, sedikit tempe, dan pisang. Namun perlu kami luruskan, tidak setiap hari menunya seperti itu. Ada kalanya kami menyajikan lauk lain seperti ayam, ikan, maupun sayuran,” jelas Kusyanto.

Ia menambahkan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kedungwungu tetap berupaya mengikuti pedoman gizi seimbang yang ditetapkan pemerintah daerah. Namun, keterbatasan anggaran serta distribusi bahan makanan kerap menjadi kendala utama.

“Kami di lapangan berusaha maksimal dengan anggaran yang ada. Kalau ada menu yang terlihat kurang lengkap, itu bukan disengaja. Kami sangat menerima kritik dari masyarakat untuk evaluasi ke depan,” imbuhnya.

Kusyanto juga menegaskan komitmennya untuk lebih transparan, agar kedepan SPPG miliknya menjadi lebih baik dalam melayani masayarakat khususnya bagi penerima manfaat.

“Kami siap terbuka, baik soal belanja bahan maupun menu yang disajikan. Harapannya dengan adanya kritik ini, pemerintah daerah bisa ikut mengevaluasi dan memperbaiki sistem agar tujuan MBG benar-benar tercapai,” pungkasnya.

Editor : Eddie Prayitno

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network