Inilah Pengalaman Spiritual Seniman Batik Muda Asal Pekalongan, Tamakun

Kini, namanya layak disejajarkan dengan para seniornya, sekalipun usianya masih cukup muda. Meski begitu, ia adalah pribadi yang sangat rendah hati. Setidaknya, hal itulah yang terungkap dari pengakuannya, bahwa sampai detik ini pun ia masih terus belajar kepada senior-seniornya.
Baginya, menggeluti dunia batik sebagai seni bukanlah hal yang mudah. Berbeda dengan batik sebagai bisnis. Tetapi, apa pun pilihan orang, menurutnya sah-sah saja. “Semua bergantung tujuannya. Setiap orang memiliki kecenderungan yang berbeda-beda dalam memilih. Tetapi, hal yang tak boleh dilupakan adalah hidayah. Bahwa pilihan itu bisa jadi adalah pengejawantahan dari hidayah yang diperoleh orang tersebut,” ujarnya ramah.
Tamakun sendiri mengaku, di dalam menemukan dunia batik sebagai seni, ia dihadapkan dengan berbagai peristiwa yang membuatnya sempat tercengang. Peristiwa itu dimulai dari lontaran protes yang ramai-ramai dilayangkan masyarakat Indonesia terhadap klaim negeri Jiran atas batik. “Waktu itu, saya bahkan sempat membuat pementasan teater dengan mengambil tema batik. Maunya sih ikut protes juga. Tetapi, selepas pentas itu, seorang penonton dari Korea tiba-tiba mendekati saya dan bertanya tentang seni batik. Saat itu, saya sempat bingung menjawabnya. Tetapi, saya ngiyeng (ngeyel) bahwa batik adalah seni,” kenang Tamakun.
Editor : Ribut Achwandi