Kelak Kamu akan Bersama Orang yang Kamu Cintai

Hadi Widodo
Ilustrasi (Foto: Okezone)

Cinta Allah kepada manusia tidak terpisah dari cinta manusia kepada-Nya. Al-Quran surah Al-Maidah [5]: 54, sudah menegaskannya. Dalam tinjauan tasawuf, kecintaan kepada Allah adalah puncak perjalanan manusia, puncak tujuan seluruh maqam. Setelah mahabbah (cinta), tak ada lagi maqam lain kecuali buah mahabbah itu, seperti syauq (kerinduan), uns (kemesraan), rida, dan tidak ada maqam sebelum mahabbah kecuali pengantar-pengantar kepadanya, seperti taubat, sabar, zuhud, dan lainnya.

Guru-guru sufi mengajarkan pada murid-murid mereka bahwa kewajiban mereka adalah memenuhi kehendak Allah, bukan karena sebuah rasa-kewajiban, tetapi lebih karena cinta, sebab adakah sesuatu yang lebih besar daripada cinta yang tak bersyarat yang manusia persembahkan kepada Tuhannya? Seorang pecinta Tuhan tahu bahwa kesusahan adalah ‘tangan’ Tuhan Yang Tercinta, yang dia rasakan, dia percayai; bahwa apa pun yang menimpanya untuk kebaikannya semata, karena Tuhan mengetahui apa yang baik bagi pertumbuhan jiwa dan penyucian roh.

Meski demikian, kecintaan Allah kepada hamba-Nya berarti Allah memberinya kenikmatan dan pahala. Siapa saja yang dicintai Allah, maka Dia akan memberikan rezeki, kecintaan dan kedudukan di hadirat-Nya. Adapun cinta hamba kepada Allah berarti ia mencari dan meminta ridha-Nya. Jika Allah tidak mencintai hamba-Nya, berarti Ia menahan kenikmatan dan pahala yang dijanjikan kepada hamba yang dicintai-Nya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT berfirman, “Barang siapa memusuhi salah seorang wali-Ku, maka sungguh Aku telah memaklumkan kepadanya peperangan. Dan tidak akan dapat hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku selain dengan apa yang telah Aku fardhukan atas dirinya. Demikian pula hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan sunat-sunat sehingga Aku mencintainya. Maka apabila aku telah mencintainya, Akulah yang menjadi telinganya yang ia mendengar dengannya, Aku menjadi tangannya yang dengannya ia memukul, dan Akulah yang menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan. Seterusnya, kalau ia memohon kepada-Ku, niscaya aku memberinya, dan bila ia berlindung kepada-Ku, niscaya Aku melindunginya.” (HR. al-Bukhari).

Editor : Hadi Widodo

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network