Deflasi Banyumas Raya Berlanjut, BI Purwokerto Ingatkan Risiko El Nino dan Dampak Kenaikan BBM

Saladin Ayyubi
Aktivitas penjualan di pasar tradisional bisa terdampak kenaikan BBM. dokumen

PURWOKERTO,iNewsPantura.id – Laju inflasi di Banyumas Raya pada Juli 2026 tetap berada dalam kisaran sasaran nasional 2,5±1 persen. Namun, di balik capaian tersebut, Purwokerto dan Cilacap justru mengalami deflasi secara bulanan. Kondisi ini dinilai menjadi sinyal positif bagi stabilitas harga, tetapi tetap memerlukan kewaspadaan terhadap berbagai risiko yang berpotensi mendorong inflasi pada bulan-bulan mendatang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Purwokerto mencatat deflasi sebesar 0,05 persen (month to month/mtm) dengan inflasi tahunan 2,66 persen (year on year/yoy). Sementara itu, Cilacap mengalami deflasi sebesar 0,06 persen (mtm) dengan inflasi tahunan 2,44 persen (yoy). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan capaian pada Juni 2026.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Aswin Gantina, mengatakan terjaganya inflasi di Banyumas Raya merupakan hasil sinergi yang kuat antara Bank Indonesia, pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), serta berbagai pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas harga pangan.

"Inflasi yang tetap berada dalam rentang sasaran menunjukkan efektivitas sinergi pengendalian inflasi yang selama ini dijalankan. Namun demikian, kami tetap mewaspadai berbagai faktor risiko, seperti dampak El Nino, kenaikan biaya distribusi akibat penyesuaian harga BBM, maupun dinamika pasokan pangan ke depan," ujar Aswin Gantina.

Menurutnya, deflasi pada Juli terutama dipengaruhi turunnya harga komoditas hortikultura seperti bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit seiring meningkatnya pasokan saat musim panen. Selain itu, penurunan harga emas perhiasan mengikuti pelemahan harga emas dunia serta masih turunnya harga telur ayam ras turut memberikan andil terhadap deflasi.

Meski demikian, tekanan inflasi masih muncul dari kelompok transportasi. Dampak lanjutan kenaikan harga bensin menyebabkan biaya angkutan dan distribusi tetap meningkat. Di sisi lain, harga telepon seluler juga mengalami kenaikan seiring tingginya permintaan masyarakat terhadap perangkat komunikasi.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, penyumbang utama deflasi di Purwokerto maupun Cilacap berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Sementara kelompok transportasi masih menjadi penyumbang inflasi terbesar di kedua wilayah tersebut.

Selama Juli 2026, berbagai langkah pengendalian inflasi terus dilakukan melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Program tersebut diwujudkan melalui Pasar Murah Inflasi Banyumas (SARAHSIMAS), pasar murah dalam kegiatan TMMD Sengkuyung Tahap III, hingga pendampingan petani guna meningkatkan produktivitas pangan.

Selain itu, TPID Kabupaten Banyumas juga menggelar High Level Meeting (HLM) untuk mengantisipasi dampak El Nino terhadap produksi pangan. Rapat koordinasi rutin bersama pedagang besar, asosiasi, kelompok tani, penguatan komunikasi publik dengan media, hingga pengembangan jaringan distribusi pangan melalui toko tani terus dilakukan guna menjaga stabilitas harga.

Aswin menegaskan Bank Indonesia bersama TPID Banyumas Raya akan terus memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui pendekatan 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.

"Kami optimistis inflasi Banyumas Raya dapat terus dijaga dalam sasaran nasional melalui penguatan sinergi seluruh pemangku kepentingan, sehingga stabilitas harga tetap terpelihara dan daya beli masyarakat tetap terjaga," pungkas Aswin.

Editor : Eddie Prayitno

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network